Cinta itu ibarat air sungai yang terus mengalir tanpa henti. Meskipun ia terhalang bebatuan ia akan terus melaju mengalir terus di sela-selanya. Itu adalah prinsip Kiran yang tak bisa hidup tanpa cinta. Setiap kali ia ditanya tentang alasan mengapa dia bergonta-ganti pasangan bahkan mendua dan mentiga seenaknya. Itu yang selalu ia ucapkan, “arus sungai ku deras, susah membendungnya!” begitu lanjutnya seraya tertawa lepas. Kiran adalah tipikal wanita muda metropolis dengan karir cemerlang dan latar belakang yang memang sudah bagus dari sananya. Ayahnya adalah pejabat publik, ibunya seorang dokter gigi. Ia terbiasa dengan kehidupan luar negeri karena ayahnya sempat lama di negeri orang. Dia aktif di berbagai organisasi yang peduli pada masalah wanita, penyakit dan lingkungan. Kesibukannya luar biasa, cantik, menawan dan otaknya secair raksa, sedikit keras kepala tapi seperti raksa, ia peka.
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 11 Juni 2011
Senin, 23 Mei 2011
Kasian
Siapapun tidak akan menduga bahwa nasibnya akan begini rupa.
Sesaat lagi hidupnya akan segera di akhiri, mungkin malaikat maut berbentuk kursi nan dingin itu perantaranya. Saat-saat sebelum ajalnya tiba, ia teringat kembali akan masa lalunya bersama Tono. Mereka berteman sejak kecil, belajar di sekolah yang sama hingga lulus SMP, maklum kota kecil itu hanya punya satu SMP. Meskipun baru lulus SMP ia memutuskan untuk menerima lamaran Tono yang umurnya hanya empat tahun lebih tua darinya. Di desanya, Ia, Kasiani, cukup beruntung, karena ia dilamar oleh Tono seorang anak tuan tanah yang cukup terpandang. Sedangkan teman-teman seumurannya yang lain sering dipaksa orang tuanya untuk dinikahkan dengan orang yang belasan tahun jauh lebih tua, hanya karena takut dibilang anaknya perempuan tidak laku.
Sesaat lagi hidupnya akan segera di akhiri, mungkin malaikat maut berbentuk kursi nan dingin itu perantaranya. Saat-saat sebelum ajalnya tiba, ia teringat kembali akan masa lalunya bersama Tono. Mereka berteman sejak kecil, belajar di sekolah yang sama hingga lulus SMP, maklum kota kecil itu hanya punya satu SMP. Meskipun baru lulus SMP ia memutuskan untuk menerima lamaran Tono yang umurnya hanya empat tahun lebih tua darinya. Di desanya, Ia, Kasiani, cukup beruntung, karena ia dilamar oleh Tono seorang anak tuan tanah yang cukup terpandang. Sedangkan teman-teman seumurannya yang lain sering dipaksa orang tuanya untuk dinikahkan dengan orang yang belasan tahun jauh lebih tua, hanya karena takut dibilang anaknya perempuan tidak laku.
Labels:
Cerpen
Jumat, 12 Februari 2010
Yang Tak Tersampaikan
Aku mengenalnya sejak masih berseragam putih-biru. Bisa di bilang dia cinta pertamaku. Parasnya cantik, berkulit cemerlang, dibalut dengan kerudung santun yang melambangkan kepribadiannya. Tak ada orang yang tahu bahwa sejak awal, hatiku telah tertambat padanya. Hanya perasaanku yang semula berkata andai saja ia jadi miliku.
Dia teman sekelasku, kami jarang sekali berbincang, hanya mataku yang menyaksikan setiap gerak lakunya, telingaku hanya mendengar suara dan kata-katanya. Ah... aku dibuat mabuk kepayang karenanya. Tapi tetap tak berani ku ungkapkan kata-kata besar itu. Hanya kulantunkan dalam hati. Aku jatuh cinta padamu wahai gadis.
Labels:
Cerpen
Rabu, 11 November 2009
Gadis kecil
Jember, 6 Februari 2009
Gadis kecil itu duduk di bangku mini tempatnya biasa menghabiskan sabtu malam di rumah. Tak berkata ia, hanya diam dan sesekali terlonjak dan segera berlari keluar jika mendengar suara kendaraan lewat di depan rumahnya. Jika ternyata kendaraan itu hanya melewatinya, ia pun akan kembali duduk diam di kursi mininya.
Seperti menjelang sabtu malam yang sebelumnya, sebelum ia duduk di singgasana mini itu. Ia akan berdandan lebih istimewa dari hari biasanya. Seperti malam ini, Ia pakai gaun merah jambu favoritnya dan meminta ibu membantunya mengenakan pita yang serasi dengan bajunya.
Sepuluh menit berlalu dari jam tujuh, tapi yang dinantinya tak kunjung tiba. Tapi sang gadis tak juga beranjak dari tahtanya, tetap setia sembari terkadang asik memainkan jarinya. Seribu alasan ia cari untuknya tetap duduk. Mungkin kendaraannya sedang mogok di tengah sawah, mungkin salah satu bannya bocor, dan beberapa kemungkinan lain yang menyebabkan ia terlambat di sabtu malam kali ini sembari tak henti berdoa semoga ia lekas datang.
Labels:
Cerpen
Langganan:
Postingan (Atom)