Tampilkan postingan dengan label Ke-an dan Aku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ke-an dan Aku. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 November 2011

Kekurangan dan Rejeki

Banyak orang bilang bahwa rejeki sudah ada yang ngatur. Sekeras apapun kita berusaha kalau memang bukan rejekinya pasti nggak akan sampai ke kita.

Pernyataan ini saya renungkan sepanjang perjalanan saya dari depan Boquaer (baca Boker, panjangnya Botani square) sampai dengan pinggir jalan menuju gang kost saya di jalan pajajaran. Sebab orang miskin sekalipun belum tentu oang yang malas berusaha. begitupun sebaliknya.

Saya sering heran dengan tingkah para sopir angkot yang suka ngetem atau berhenti di pinggir jalan(ya eyalah kalo ditengah jalan namanya mogok kale) hanya untuk nunggu penumpang. Tidak cukup 5 menit kalau mereka sudah ngetem. Bisa 15 menit sampai setengah jam.

Senin, 04 Juli 2011

Kecantikan dan Jatuh cinta

Ini kali cerita masih ada hubungannya dengan kecintaan saya terhadap Bajaj. Beberapa hari yang lalu, ketika saya harus berangkat ke Jakpus (ingat bukan jenis kucing baru ni, Jakarta pusat maksudnya). Saya terlambat dari jadwal keberangkatan yang biasa saya lakukan. Sedikit sih gak banyak, paling sekitar 10 menit! Iya iya saya ngaku sepuluh menit lebih dikit. Hehehe… tapi betapa tak beruntungnya saya, sudah telat, ternyata bus yang saya tumpangi jalannya kek uler keket ketimpa batu 7 ton (nah loh bingung dah bayanginnya, stop your imagination!). Sampai akhirnya saya harus naik bajaj dan untung si bajaj jalannya kek belut, siut sini siut sana, mantaB.

Pada awal perjalanan naik bus semua baik-baik saja. Saya duduk di samping pak sopir yang sedang bekerja. Bukan dipangkuannya loh, saya duduk di depan sebelah kiri bus belakang kondektur, dan saya memilih duduk dengan seorang bapak-bapak setengah baya yang terlihat mengantuk. Tas yang lumayan berat, saya pegang erat-erat (udah kayak balonku aja) dan sandarkan di dada. Hari itu saya sadar betul busana yang saya pakai sedikit “mengundang”. Jadi saya tutuplah dengan erat.

Kemacetan dan Pejabat (bukan Penjahat!)

Kemacetan adalah hal yang paling nyebelin (kecuali kalau saya naik bajaj), apalagi kalau kita sedang terburu-buru. Sebenernya nggak sering juga saya terjebak macet, secara kejadian ini waktu saya masih di Jember. Ketika pulang kuliah saya sering memilih jalan yang agak jauh (bukan berarti saya pergi ke Jakarta dulu baru sampe rumah) soalnya jalan yang biasanya saya lewati, notabene yang lebih dekat, rusak berat.

Nah waktu lewat di depan sebuah hotel yang jalannya agak sempit, ternyata saya kena macet (scara emank jalannya sempit ya, gak aneh lah kalo macet!. Oh iya ya? wkwkwk). Setelah saya amat-amati ternyata sebuah bus parkir di depan sebuah hotel yang terletak di jalan itu. Banyak polisi juga waktu itu, saya udah ngira wah ada kecelakaan sepertinya. Gawat juga pasti kalo ketabrak bus, enggak ngebayangin ancurnya badan korban hiiii..... Tapi ternyata busnya baik-baik saja. Kemudian keanehan berikutnya kok ada banyak tentara ya? Jangan-jangan penggerebekkan Terroris.

Kesetiaan dan Cinta

Saya nulis ini bukan karena saya lagi jatuh cinta , lagi patah hati, atau lagi frustasi karena cinta. Bukan… bukan salah satu di antaranya tapi saya mungkin sedang merasakan ketiga-tiganya.

Dulu bagi saya, kesetiaan adalah segalanya dalam hal percintaan. Mungkin saya tidak bisa mengungkapkan secara langsung bahwa, “ini loh sayang, saya sangat setia kepadamu”. Saya melakukan hal yang lain, seperti bilang padanya bahwa ada seseorang yang lagi naksir berat sama saya. Saya menceritakan detail A sampai Z sama pacar saya itu. Saya berharap dia bisa lebih menghargai saya sekaligus merasa beruntung bahwa saya yang ditaksir sama orang, lebih memilih dia yang nggak begitu peduli sama saya. Saya tidak tahu betul apa yang ada dalam benak saya, mau pamer, mau minta di sayang, apa mau minta di tempeleng. Setelah sekian puluh bulan baru saya tersadar untuk apa, sebegitunya mengatakan sesuatu A sampai Z, toh akhirnya harapan yang saya inginkan tidak tercapai. Wong pada intinya dia nggak nangkep maksud saya. Wong akhirnya setia itu enggak penting.

Kebimbangan dan Gangguan Tidur

Tuhan memberi saya anugerah yang sangat besar dengan menempelkan otak pada kepala saya. Saya seorang yang cukup ruwet dalam memikirkan sesuatu. Tidak pernah dalam sejarah pemakaian otak, saya memikirkan jalan yang paling mudah untuk menentukan sesuatu.)

Ibaratnya ketika kita hendak pergi ke Jakarta dari kota malang. Otak normal akan berpikir ‘ ya sudah ambil jalan utara saja”. Otak pintar akan bilang ‘hemat waktu istirahat dan ketika isi bensin usahakan dalam waktu yang bersamaan kita buang air kecil atau besar jadi waktu lebih efisien. Jangan minum terlalu banyak dan gunakan kecepatan normal yang stabil untuk menghindari rasa lelah. Bawa sopir cadangan jika kita merasa lelah atau ngantuk di jalan sehingga kita tidak perlu berhenti untuk tidur’. Otak kaya akan bilang ‘ ya tinggal pergi ke bandara, dan Jakarta akan segera terlihat dalam waktu 1 jam saja!’. Tapi otak saya akan berkata ‘ kamu ambil ransel, pergi naik angkot ke tanjung perak, nyeberang ke Kalimantan, sumatera baru ke Jakarta!’ sekalian jalan-jalan.

Kebiasaan dan ketidak-tuntasan

kalo ngomong kebiasaan selalu saja hal ini berkonotasi negatif, terutama buat aku. aku tipikal orang yang berpikir cepat, bertindak lambat, mintanya praktis, tapi gak mau ikut ribet.

satu waktu di pagi ini, aku hendak membuat minuman instan. well gak ada masalah dengan rasanya. gak pula ada cerita tentang gelasnya, atau air panasnya atau tempatnya. bukan! tapi ini tentang bungkusnya.
Biasanya di tiap bungkus minuman instan selalu saja ada sobekan kecil di salah satu ujungnya kalo tidak di kanan ya di kiri (btw ngerti kan?).

nah ternyata bungkus yang saya pegang tidak ada ujung yang sobek. akhirnya setelah berusaha sedemikian rupa namun tetap tak berhasil membuka. maka saya cari gunting untuk memotongnya.

Ketakutan dan Kemandirian

akhirnya saat ini datang juga. saat-saat di mana aku harus menjadi diri sendiri. saat di mana harus aku yang memutuskan segalanya. saat di mana harusnya tidak ada lagi ketergantungan kepada induk semang.

Aneh, di satu sisi aku menikmati peran baru yang sudah lama ku damba. tapi di sisi lain dalam waktu bersamaan muncul ketidak dewasaan dalam diriku yang selama ini seperti bayang-bayang tapi tak kasat mata.

semua ini memang harus dilalui. semua memang harus diputuskan apakah ini akan baik atau buruk. mari kita jalani dulu dan jangan berandai-andai yang tak jelas.

setiap perjalanan jauh pasti dimulai dari sebuah langkah. jadi hentikan pikiran tak bersumber dan bermuara, mari berjalan mengarungi rimba ini.

Kebingungan dan relativitas waktu

baru beberapa hari di kota besar, rasanya seluruh hidup sudah terpengaruhi.
mulai dari semua yang serba praktis dan effisien. seolah semua ini tiada akhir
seolah semua yang ada di sini cepat berlalu.

manusia pun tak tampak seperti manusia. ia tak lain seonggok mesin tak bernyawa.
hanya bekerja, hanya berlari, hanya mencari dan hanya berpikir untuk lebih cepat.

kalau ada yang dikata harapan mereka akan berkata berikan waktu dalam satu hari lebih dari 24 jam.
karena waktu 24 jam itu tidaklah cukup untuk semua ini.

Senin, 27 Juni 2011

Ke Ge-Je-an dan Happy Ending.


Ini tulisan saya hampir setahun lalu... 

Rasanya sudah lama nian saya tidak menulis, padahal saat – saat inilah saya bisa menjadi diri saya sendiri. Saya biasanya nulis di tengah malam. Tapi sekarang setelah saya hidup sendiri (jiah) maksudnya nggak ikut siapa-siapa begitu, walaupun semua masih bawa jaring-jaring pengaman social kemanapun saya pergi. Yah saya selalu bersyukur menjadi bagian keluarga saya, dan saya harap pembaca sekalian juga begitu ehehehe

Sudah menjelang lebaran saat ini sodara-sodara, dan bagi perantauan macam saya ini lebaran sangatlah di tunggu karena inilah saat yang tepat untuk pulang kampuang, bertemu sanak sodara, berhaha hihi bersama dan makan bersama seperti sedia kala di mana kita terangkai bersama… ooopppsss kenapa jadi nyanyi ya? Wkwkwkwkw..